• Minggu, 27 November 2022

Serba Serbi Babi

- Senin, 31 Januari 2022 | 08:00 WIB
 Bangkai babi mati milik warga di Kabupaten Lembata akibat virus ASF tahun 2021. Foto : Victory News-Hiero Bokilia.
Bangkai babi mati milik warga di Kabupaten Lembata akibat virus ASF tahun 2021. Foto : Victory News-Hiero Bokilia.

Bingkai Nasional - Dikutip dari buku berjudul “Kisah Penciptaan & Tokoh-Tokoh Sepanjang Zaman” karya Syaikh Muhammad Bin Ahmad Iyas, diriwayat, ketika kotoran binatang telah memenuhi bahtera Nabi Nuh a.s, para penumpang bahtera mengadukan nya kepada Nabi Nuh.
Atas pengaduan itu, Allah memberi wahyu kepada Nuh a.s. agar memeras ekor gajah.

Setelah dia memeras-meras nya, dari sana muncul babi jantan dan babi betina yang kemudian memakan kotoran-kotoran yang menumpuk di bahtera.

Kemudian ketika babi itu bersin, dari bersin nya Allah menciptakan tikus jantan dan tikus betina.
Babi Dalam Budaya, Dan Sejarah Umat Manusia

Berdasarkan buku Pigs & Pork: A Brief History, Kebangkitan babi dimulai di Asia dan berkembang melalui wilayah Turki saat ini, dan akhirnya ke Eropa, Spanyol-lah yang memperkenalkan nya ke Amerika, dan Amerika berhutang atas pengenalan hewan yang berharga ini.

Babi pertama berevolusi di Asia Tenggara sekitar dua juta tahun yang lalu, dan menyebar dari sana ke seluruh Eurasia dan Afrika.

Orang-orang juga menjinakkan babi secara terpisah di Eropa, mungkin pada waktu yang hampir bersamaan.

Setidaknya sejak tahun 1500 SM, orang Mesir tampaknya berpikir bahwa babi itu menjijikkan, sesuatu yang hanya akan dimakan oleh orang miskin.

Mungkin karena orang Mesir merupakan bangsa penakluk, yang menjungjung tinggi “Éstetika” dan kebersihan.

Bangsa Mesir kuno menjadikan babi sebagai pembuangan sisa pakan ternak mereka pada saat itu.
Kebanyakan bangsa Semitik di Asia Barat, bangsa Yahudi, juga bangsa seperti Fenisia dan Arab, tidak akan makan daging babi.

Halaman:

Editor: Meidy Achmad Harish

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Serba Serbi Babi

Senin, 31 Januari 2022 | 08:00 WIB
X